Berdasarkan kronologi yang disebutkan di berbagai media, kejadian bermula ketika pesawat akan melakukan lepas landas. Seperti biasa awak pesawat melakukan semacam prosedur pemeriksaan keselamatan. Salah satunya adalah dengan memeriksa ponsel penumpang yang masih menyala. Saat itu pramugari memergoki pak Zakaria nampak masih menghidupkan ponselnya. Pak Zakaria pun akhirnya diminta untuk mematikan ponselnya demi menjaga keselamatan penumpang lainnya. Entah paginya sarapan apa, tiba-tiba saja pak Zakaria merasa kesal dan marah pada pramugari tersebut. Hingga kekesalan itu berlanjut dan terjadilah insiden pemukulan sesaat setelah pesawat landing di Pangkal Pinang.
Hingga hari ini kasus itu masih saja bergulir. Bahkan persoalannya sudah memasuki ranah polisi. Beragam pro kontra juga bermunculan. Sebagian kecil ada yang menganggap jika itu adalah sesuatu yang dibesar-besarkan. Sebagian besar lainnya bersikap mengecam tindakan yang dianggap penuh arogansi tesebut. Bahkan di jejaring sosial Twitter muncul pula semacam dukungan buat sang pramugari dengan nama #DukungFebry.
Kasus yang dialami Febry mungkin hanya sedikit contoh dari kasus kekerasan yang dialami seseorang yang berprofesi melayani. Sebab, bisa jadi masih banyak kasus kekerasan akibat arogansi lainnya yang belum terkuak di negeri ini. Entah itu kekerasan berupa fisik atau verbal, saya yakin diantara anda pasti pernah menyaksikan atau bahkan mengalami (semoga anda tak termasuk yang melakukan).
Arogansi, mungkin itu salah satu faktor yang membuat seseorang melakukan kekerasan terhadap orang lain yang mereka anggap memiliki kelas di bawahnya. Pembeli adalah seorang raja, kadang dijadikan mereka untuk berbuat semaunya. Mentang-mentang punya uang mereka pun bertindak sewenang-wenang. Bahkan jika merasa tak puas tak segan bertindak keras. Melakukan kekerasan sebagai bentuk pelampiasan kekesalan. Ah, jika profesi sekelas pramugari saja ada kekerasan, lantas bagaimana halnya dengan seorang pelayan dari kelas masyarakat bawahan?
Arogansi sebenarnya timbul karena sebuah penyakit yang bersarang di hati. Semacam virus "merasa" yang ada dalam diri manusia. Merasa lebih hebat karena diri berpangkat. Merasa paling berkuasa karena kaya. Merasa yang paling tinggi karena memiliki segudang prestasi. Ya, merasa dan merasa diri yang paling wah, sedang orang lain begitu rendah. Angkuh dan sombong dijadikan sebagai kebanggaan. Padahal kita tahu jika hanya Tuhan saja yang berhak mengenakan selendang kesombongan.
Semoga saja kasus Febri ini membuka hati siapa saja. Untuk anda dan terlebih lagi buat saya, jika pada dasarnya kita semua hanya manusia biasa. Lahir telanjang tanpa sehelai benang dan saat mati pun hanya tiga lapis kafan yang dibawa pulang.
Dari tetes "air hina" itulah awal mula kita, lalu menjadi manusia karena belas kasihan-Nya. Ya, hanya karena belas kasihan saja ada sebuah keberuntungan di dunia. Keberuntungan bernama pangkat dan kaya yang tak bisa kita sombongkan. Tapi justru untuk saling melengkapi dinamika kehidupan yang Tuhan ciptakan. Jadi, bagaimana sombong masih ada di hati kita, jika awalnya kita hanya setetes air hina saja?
Salam dangdut !
jadi inget lagu di atas :)
BalasHapusSuka lagu bang Rhoma juga ya mbak?
HapusHarus bercermin dan tidak perlu congkak akan suatu jabatan amanah yang sedang diemban oleh kita ya Kang.
BalasHapusSalam wisata
Salam dangdut. Sukses yo kang
Hapuskita hanya titik hitam terkecil yang penuh dengan dosa ... apa sih yg disombongin, toh semua juga berasal dari Tuhan
BalasHapusYa mbak. Semua pasti akan kembali pada-Nya
Hapusternyata kita sama ya om, ngefans ama bang haji rhoma irama. zakaria mesti ngerti ini. kebanyakan pejabat emang sudah ngerasa paling hebat aj
BalasHapusBukan hanya Rhoma mas. Tapi kebanyakan dangdut lama saya suka. Jadul tapi melegenda gitu loh he.he. Makasih udah mampir mas
HapusKarena yang berhak menggunakan selendang kesombongan hanya Alloh Ta'ala, maka sangat wajar jika hati yang tertitik kesombongan bisa menjadi penghalang kita menuju surga, nau'udzubillah
BalasHapus--
Yang namanya kesombongan itu ekspresinya bermacam-macam nggih Kang, dari omongan, dari sikap bahkan mungkin dari lirikan mata q q q, mari kita berguru pada kafedut yang baik hati dan tidak sombong.
Virus "merasa" itu membuat lena Kang. Dan saya pun belajar untuk terus membunuh virus itu dalam hati saya. Setidaknya meminimalkan virus itu merasuki rongga dada
HapusJika tahu efek bahayanya frekwensi maka tidak akan marah diingatkan untuk mematikan ponselnya, konon apabila frekwensi ponsel dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi, berakibat mengganggu jalannya turbin dan yang lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
BalasHapusnah kalau mesin turbinnya mati terus jatuh dampaknya pada siapa hayoo..
makanya jangan adigang, adigung, adiguna..
Seorang pejabat menurut saya tentunya sudah paham peraturan mas, tapi seperti saya bilang mungkin ada yang salah tuh dengan sarapan paginya hahaha
HapusPangkatnya aja yg tinggi, tapi mentalnya masih yaa... begitulah.
BalasHapus:(
Semoga kita tak menirunya ya
HapusMemang msh bnyk perilaku spt itu mas, menyalakan ponsel saat udah di pesawatt, entah krn ga tau entah karena arogansi dan ga mau tau ttg keselamatan org lain, mungkin jg krn terbiasa naik angkot atau bis hehehe Semoga kelak kalo ditakdirkan jadi pejabat, ga arogan spt itu...#eh
BalasHapusAamiin.. saya pegang deh janji mas Anton.. Apa perlu teken kontrak nih mas hehe
Hapuskesabaraan harus dimiliki oleh semua, bukan hanya oleh pejabat. Semoga kita kita yang bukan (belum) pejabat pun dapat menahan emosi dan tetap sabar.
BalasHapusBener mbak, tak hanya pejabat rakyat juga harus sabar. Jangan sampai ikut terbakar ya
HapusMas .... di atas ditulisnya "oknum" tp namanya disebut juga :D
BalasHapusSy setuju sama postingan ini. Mudah2an oknum pejabat itu bisa merenung di penjara ...
hahaha awalnya mau saya tulis inisial mbak, tapi berhubung wis banyak yang tahu ya udah blak-blakan saja.
HapusPiye? udah sembuh laptopnya?
Semoga dari kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang nekat melanggar peraturan. Kalau saya sih gak menyalahkan orangnya, jabatannya, atau apapun yang melekat di luarnya, hanya moral manusia nya saja yang harus diubah :)
BalasHapusApa karena kita terbiasa dengan ungkapan peraturan itu untuk dilanggar ya mbak?
HapusMengena banget om tulisannya..
BalasHapusAgak miris juga saat tau berita Mbak Febry itu. Padahal yang dilakukan mbak Febry demi keselamatan dia juga. Kadang hal sepele seperti menghidupkan ponsel itulah yang terkadang menjadi penyebab suatu malapetaka..
Nah loh.. Iya nih mbak dieman kok malah ngamuk yo..
Hapuspiye kabare Dzaky?
Alhamdulillah apik om...
HapusJarang2 lo om, aku komen diblog orang ditanya kabarnya anakku.. Hahaha^^ *tersanjung episode 1000
Kadang manusia kalau punya uang atau kedudukan itu lupa daratan ...
BalasHapusmiris memang ...
Semoga kita enggak lupa pula yo mas, termasuk lupa pulang ke kampung halaman hahaha..
HapusPrihatin sangat dengan kasus di atas, artikel yang menarik, semoga semua orang belajar dan mengambil hikmah yang baik dari kasus tersebut.
BalasHapusKudu ada materi pengendalian emosi bagi semua warga negara Indonesia, khususnya pejabat, mungkin ya?
Salam
Astin
Saya jd inget nasihat tante saya..
BalasHapus"emang kita ngehargain diri kita seberapah sih? Gak usah tinggi2 lah ngehargain diri, rata2 saja seperti org kebanyakan. Jd gak ada yg bisa menjatuhkan harga diri kita.. Wong dah merendah kok, ndak akan jatuh kemana2"
*berusaha mencontoh sikap low profile*
Mudah2an kasus ini bs jd pelajaran utk qta semua yah Kang. Siapa tau qta pernah jd org sombong... Yuk mariii kita liat kesalahan diri qta jg :-)